Kiai Zuhri: Misi utama pesantren adalah dakwah mencakup aspek luas

 







Probolinggo (Jawaranusantaranews.com) -

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, KH Moh Zuhri Zaini menyebut misi utama pesantren adalah dakwah yang mencakup aspek luas, mulai dari ritual, spiritual, sosial, ekonomi hingga politik.


Kiai Zuhri mencontohkan Nabi Muhammad SAW sebagai pebisnis sukses yang menggunakan hartanya untuk perjuangan dakwah, serupa juga dilakukan oleh pendiri Ponpes Nurul Jadid, KH Zaini Mun'im.


"Kiai Zaini Mun'im adalah seorang pebisnis tembakau, dan beliau membudidayakan tembakau hingga mampu membangun masjid pertama di pesantren ini dari hasil penjualannya. Beliau mengajarkan bahwa ekonomi adalah sarana ibadah dan perjuangan," tuturnya dalam acara halaqah alumni rangkaian Haul Masyayikh dan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-77 di Aula Ponpes Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Sabtu.


Ia pun menyampaikan pentingnya penguasaan ekonomi dengan mengutip semboyan "Laisa indal fulus fahuwa manfus" (orang yang tidak punya uang akan mampus/sulit bergerak).


Selain ekonomi, Kiai Zuhri menceritakan bagaimana pendiri pesantren KH Zaini Mun'im melakukan dakwah kultural yang bijak, yang salah satunya adalah mengubah tradisi sesajen di sawah menjadi tumpengan yang disertai doa Yasin dan Tahlil.


"Cara mengubah tradisi yang tidak sesuai syariat dilakukan dengan bijak, tidak dengan marah-marah apalagi memakai pentungan. Ini perlu kita tiru," katanya.


Dalam hal pendidikan, lanjut Kiai Zuhri, Pesantren Nurul Jadid diakui telah menerapkan kurikulum yang lengkap sejak dini, menggabungkan ilmu agama (kitab kuning) dengan ilmu umum seperti matematika dan sosiologi, jauh sebelum kurikulum nasional diterapkan secara luas.




Dalam forum yang dihadiri alumni dari berbagai negara itu, Kiai Zuhri menekankan agar kegiatan halaqah alumni itu tidak sekadar menjadi seremonial rutin.


Ia mengungkapkan kekhawatirannya jika halaqah alumni tersebut hanya bertujuan untuk meramaikan suasana haul tanpa dampak konkret.


Menurut Kiai Zuhri, tanda keseriusan sebuah halaqah adalah lahirnya keputusan-keputusan atau rekomendasi penting yang realistis dan sesuai dengan kondisi di lapangan.


"Saya harapkan ini betul-betul serius, tidak hanya seremonial dan jangan sampai hanya selesai di halaqah kemudian tinggal catatan saja dalam sejarah. Harus ada implementasi dan pertemuan lanjutan untuk membahas masalah teknis di lapangan," ucapnya.




Kiai Zuhri juga mengulas sejarah pesantren yang akar budayanya telah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW, dan ia menyebut istilah "santri" dalam bahasa Madura sering disebut "kancah" yang merupakan terjemahan dari kata "sahabat".


Mencerminkan hubungan yang sangat akrab dan tanpa jarak antara guru (Kiai) dan murid (santri), sebagaimana Nabi Muhammad SAW memperlakukan para sahabatnya.


"Sebagai alumni tetaplah santri, bukan 'alumni santri', kalau alumni pesantren boleh, tapi jangan sampai menjadi mantan santri. Lebih baik menjadi mantan preman seperti Sunan Kalijaga yang berproses menjadi wali, daripada menjadi mantan santri," seloroh Kiai Zuhri yang disambut khidmat oleh peserta halaqah.


Halaqah alumni Pesantren Nurul Jadid Paiton ini diharapkan menjadi titik awal bagi para alumni untuk terus berkiprah di berbagai sektor dengan tetap membawa nilai-nilai kesantrian dalam tugas kesehariannya.

Komentar